Enyahlah Pagi

Waktu yang tepat menunggu mati enyahlah pagi
Goreskan luka di nadi
Mungkin jadi pilihan bijak akhiri
Hilang ku menunggu matiJiwa tak kasat mata berdiri
Memandang tubuh yang terbaring kini
Alunan hampa dekap hampiri
Hantarkan kaki menuju abadiMenunggu mati ironi tercipta
Saat darah menghitam gantikan tinta
Enyahlah pagi biarkan ku sendiri
Bayangku milikku kini menunggu matiJiwa tak kasat mata berdiri
Memandang tubuh yang terbaring kini
Alunan hampa dekap hampiri
Hantarkan kaki menuju abadiMenunggu mati ironi tercipta
Saat darah menghitam gantikan tinta
Enyahlah pagi biarkan ku sendiri
Hina yang milikku kini menunggu matiEnyahlah Pagi

Mencoba Tak Terlihat

Lihatlah kau tampak lelah tlah jauh mengarah
Di separuh abad usia genap kau melangkah
Lambat cerita tersirat dirimu terjeratDi tak banyak pilihan mencoba kau bertahan
Rasa takut kan lapar buatmu ingkar
Nurani serahkan akal berfikir dangkal
Putuskan cepat berlari mereka mencari
Hilang sembunyi penjahat mencoba tak terlihatNaas di ujung peluru pun lengah kau tebak
Di tengah pelarian gelisah kau terjebak
Terus pungkiri dan pertaruhkan nyawamu
Demi di tiap detik berharganya waktumuSudahlah nyata tak dapat kau ubah
Paradigma yang tercipta pandai kelabui mata
Dan menepilah
Samar langkah yang kau punya
Senyawa dalam derita
Haru dan tawa dunia penuhi udara kita
Tak mungkin terbantah terperangkap kita di dalam benar dan salah duniaKeringkan bajumu pertegas langkahmu
Sesal takkan jadi akhir penentu
Harapan yang baru menunggu untuk kau sentuhLihatlah kau kini bertahan disini
Demi harga mati yang kau sepakati
Luka ini kawan nikmati saja nikmatiSudahlah nyata tak dapat kau ubah
Paradigma yang tercipta pandai kelabui mata
Dan menepilah oh
Samar langkah yang kau punya
Senyawa dalam derita
Haru dan tawa dunia penuhi udara kita
Tak mungkin terbantah terperangkap kita di dalam benar dan salah dunia

Mereka Yang Berdasi

Sabar Hai Kawan

Sabar Hai Kawan

Babiraga Version 2

Kami Lahir Dibabiraga
Setitik Hidup Untuk Berkarya
Kami Tumbuh Dibabiraga
Takkan Menyerah Melawan Semua
Kasar Kehidupan Kan Kami Jalankan

Siapa Berpikir Kita Telah Merdeka
Tentram Dan Adil Damai Dan Sejahtera
Dapatkah Kita Untuk Melihat Semua
Kita Dijajah Dalam Bentuk Yang Berbeda

Siapa Berani Ikuti Langkah Kami
Setidaknya Membangun Diri Sendiri
Kepalkan Tangan Tuk Raih Yang Berarti
Meski Dijajah Bukan Berarti Menyerah

Ditempat Ini Kami Bisa Berbagi
Hilangkan Penat Yang Slalu Warnai Hari
Berikan Kami Kebebasan Nurani
Tuk Kemenangan Satu Hati Sangat Berarti

Tak Seperti Apa Yang Kau Harapkan
Kami Lusuh Kotor Dan Tersisihkan
Tapi Kami Punya Kebebasan
Tanpa Aturan Tapi Punya Tujuan
Hidup Tak Seperti Apa Yang Kau Bayangkan
Jangan Menyerah Melawan Semua
Kasar Kehidupan Kan Kami Jalankan

Babiraga

Bersama kita rasakanĀ 
Bersama kita jalankanĀ 
Tak pernah kita merasa
Bersama adalah duka

Jangan ada yang pisahkan kita 
Tak peduli siapa mereka
Kita selalu bersama di Babiraga

Disini kami berdiri 
Buang semua ilusi di hati
Berlari tuk mengejar mimpi 
Meraih semua harapan tak pasti

Babiraga adalah tempat tuk bersama
Babiraga adalah sekolah kita 
Babiraga adalah tuk bercermin kita 
Kita bernyanyi, berkarya suka-suka disana

Lukanegara

Hei kalian yang suka rendahin kami Tolong coba dengarkan sekali saja lagu ini
Kami disini berdiri tanpa paksaan
Hari ini esok ataupun sampai kami mati
Beribu makian kami terima
Beda pemikiran jangan jadi ancaman
Berjuta ejekan sudah biasa
Disini kami tetap berdiri
Lukanegara…tak peduli kami dianggap beda
Lukanegara…daripada ribut kita tertawa
Lukanegara…tak peduli kami dianggap beda
Lukanegara…disini kami tetap berdiri

Mereka Yang Berdasi

Bukalah mata hatimu kawan
Korupsi t’lah bangkit kembali
Lahirkan generasi terkini
‘Tuk menjajah negeri sendiriHukum tak seperti di negeri orang
Putusan hakim tak sembarang
Yang salah tak s’lalu dibenarkan
Budayakan jangan hilangkanMereka yang berpakaian rapih
Yang mengandalkan profesi
Mereka yang selalu berdasi
Ternyata yang membodohiKu tau susah mengadili karna ku tau teman sendiri
Ku malu tatap negeri ini karna korupsi t’lah mewabah lagi
T’lah ku dengar jeritan lapar hari ini dan kulihat sendiri
Dan ku pandangi ratapan anak kecil
Bernyanyi, berlari tuk dapati segenggam mimpiMereka yang berpakaian rapih
Yang mengandalkan profesi
Mereka yang selalu berdasi
Ternyata yang membodohiKu tau susah mengadili karna ku tau teman sendiri
Ku malu tatap negeri ini karna korupsi t’lah mewabah lagiKu tau susah mengadili karna ku tau teman sendiri
Ku malu tatap negeri ini karna korupsi t’lah mewabah lagi
T’lah ku dengar jeritan lapar hari ini dan kulihat sendiri
Dan ku pandangi ratapan anak kecil
Bernyanyi, berlari ‘tuk dapati segenggam mimpiMereka yang berpakaian rapih
Yang mengandalkan profesi
Mereka yang selalu berdasi
Ternyata yang membodohi

Jalanan adalah sekolah

bagi kami kreasi bukan tradisi melainkan harta yang tak terbeli
dan bagi kami jalanan adalah sekolah tapi ingat jangan anggap kami sampah

banyak orang bicara semaunya tentang cara hidup kita
tak perduli apa kata mereka
yang penting bisa berkarya dan terus

berkarya tuk hidupkan dunia, dengan seni dan peran budaya
bergerak berontak itu biasa karna keadilan tak ada
jangan lihat kami sebelah mata

mengingat semua hal yang kau katakan
tentang kami dan jalanan
jangan anggap sebagai pelarian karna disini kami tumbuh dan terus

berkarya tuk hidupkan dunia, dengan seni dan peran budaya
bergerak berontak itu biasa karna keadilan tak ada
jangan lihat kami sebelah mata

bagi kami kreasi bukan tradisi melainkan harta yang tak terbeli
dan bagi kami jalanan adalah sekolah tapi ingat jangan anggap kami sampah

Air Susu Di Balas Air Tuba

Cerita ini berawal di saat saya masih kelas 1 SMA waktu saya masih tinggal di jakarta daerah rawamangun dimana saya menemukan apa itu namanya kehidupan di kota jakarta yang penuh dengan kekerasan,setiap hari saya menemukan perkelahian antar anak muda yang satu dengan anak muda yang lainnya

Rumah kami memang terletak di ujung jalan dari sebuah komplek pemerintahan yang berbatasan langsung dengan perkampungan penduduk jadi bukan hal yang aneh kalau malam hari kami selalu mendengar teriakan dari pemuda yang sedang berkelahi,bukan rahasia lagi kalau kawasan tempat tinggal kami rawan kriminal,itulah sedikit cerita tentang tempat tinggal saya di jakarta

Di pagi yang mendung ada seorang anak kecil yang belum lulus SD dengan berpakain kumel datang ke rumah kami untuk bekerja membersihkan taman rumah,anak itu bernama Imron yang kebetulan ibunya bekerja juga di rumah kami sebagai Pembantu Rumah Tangga,jadi sekalian mereka bekerja di rumah kami.

Dari tahun ke tahun mereka tetap di rumah kami untuk bekerja,tak terasa saya sudah mau lulus kuliah sedangkan Imron baru mau lulus SMP,setelahh lulus SMP tidak melanjutkan ke SMA karena keterbatsan biaya dan tingkah laku yang berurusan dengan kriminal.

Setelah lulus SMP Imron tidak lagi bekerja di rumah kami tapi bekerja serabutan dari suatu daerah jakarta ke daerah jakarta lainnya,sampai akhirnya bekerja sebagai satpam di sebuah Bank Di Jakarta Selatan

Di Bank Daerah Jakarta Selatan inilah dia menemukan calon Istrinya,dan akhirnya mereka menikah,tapi setelah menikah tidak membuat Imron Berubah cara hidupnya bahkan lebih parah perbuatan kriminalnya,sampai akhirnya di bantu keluarga saya di bawa ke aceh ini.

Berpuluh tahun di aceh tinggal,tidak merubah cara hidupnya tetap dengan kriminal dan kriminal sampai pada puncaknya pada Tanggal 13 Januari 2022,dia dan keluarganya kabur dari rumah kami dengan meninggalkan banyak masalah.

Apakah dia tidak berfikir siapa yang menyelamatkan nyawanya ketika dalam keadaan terjepit tapi balasannya seperti ini,selain menjual barang barang yang ada di rumah milik ayah mereka juga membawa kabur uang kos kosan yang tidak di setorkan,selain itu istrinya yang bernama INA juga berbohong kalau dirinya mengaku hamil,dari yang saya lihat tidak ada tanda tanda kehamilan,semuanya hanya kebohongan belaka

Mungkin sekarang kalian bisa tertawa,tapi itu tidak akan lama setelah puas tertawa,tetesan air mata akan menemani kehidupan kalian di hari yang akan datang…..Aamin